Posted by: Kraton Furniture Batik ( mebel batik ) | June 30, 2011

Canting

Ibarat perang, canting adalah senjata untuk masuk dalam dan memenangkan peperangan. Ibarat orang mau jualan, canting adalah laptop tempat menyimpan dan menampilkan seluruh file presentasinya. Canting adalah alat utama pembatik untuk menyelesaikan karya terbaiknya. Dengan canting pula, sambil menunggu masa panen, ibu-ibu di daerah Bayat mencari uang untuk keluarganya.

Canting dibuat dari lempengan tembaga tipis yang dibentuk menyerupai

mangkok berdiameter kurang lebih 2 cm. Di bagian bawah pinggir, terdapat pipa bengkok dengan berbagai ukuran. Mangkok itulah tempat menampung malamcair dan pipa tersebut tempat mengalirnya malam ke mori (kain putih) yang akan dibatik. Malam sendiri adalah sejenis lilin yang digunakan untuk membuat pola batik dan menutup mori dari warna yang tidak dikehendaki pada proses pewarnaan batik.

Bentuk dan diameter lubang pipa yang beragam menentukan jenis dan fungsi tiap canting. Diameter ini tidak diukur dengan standar pengukuran internasional, namun dari diameter ini pembatik membedakan kegunaan tiap canting. Umumnya, tiap pembatik mempunyai 4-5 jenis canting yang akan sering dipergunakan.

1. Canting Carat
Berbeda dengan canting lainnya yang hanya mempunyai satu pipa, canting carat mempunya i dua pipa dengan diameter sama, yang keluar dari mangkok tembaga. Biasanya, canting carat mempunyai diameter pipa sama dengan canting klowongan. Canting ini dipergunakan untuk membuat garis yang sejajar dan rapi. Sebuah mori yang akan dibatik menjadi kain panjang atau sarung, akan di-carat-i dulu di keempat sisinya. Selain itu, untuk pembuatan motif Parang (dan keluarganya), carat ini akan sangat berguna.

2. Canting Klowongan
Canting klowongan mempunyai diameter lubang pipa yang cukup besar. Canting ini berfungsi untuk membatik pola utama dari sebuah motif batik. Misalnya motif bunga, maka canting ini hanya akan dipakai untuk membuat bentuk luar motif bunga. Sebutan untuk itu ialah “nglowongi”.

3. Canting Isen
Diameter pipa canting isen lebih kecil dari canting klowongan. Dipakai untuk membuat isen-isen (motif isi) sebuah motif batik. Selain itu juga digunakan untuk membuat pelataran motif (motif latar/background). Misalnya motif bunga diatas, maka isen-isen ini bisa berupa galaran atau sawutan ditengah kelopak bunga.

Jenis motif isen ini sangat banyak. Ada jenis motif yang tradisional, namun ada yang kreasi baru mengikuti kreatifitas pembatiknya. Untuk menyebut jenis isen-isen tradisional: sawut, galar, ukel, kembang bayem, kembang jambu, dlsb.

Istilah untuk penggunaan canting isen ini adalah “ngiseni” yang artinya “memberi isi”.

4. Canting Cecek
Canting cecek adalah jenis canting yang paling kecil diameter pipanya. Canting ini berfungsi membuat motif titik-titik yang kecil dan lembut. Semakin kecil dan rapi cecekan-nya, maka batik tersebut semakin halus pula. Istilah untuk menyebut proses ini ialah “nyeceki”.

5. Canting Tembokan
Canting tembokan adalah canting dengan diameter pipa terbesar sehingga malam dengan cepat keluar dalam kapasitas yang cukup banyak. Bila tidak terbiasa dengan canting ini, malam panas bisa dleweran kemana-mana menimpa batikan yang sudah bagus, bahkan mengenai tangan.

Sesuai namanya, canting ini memang berfungsi membuat “tembok” atau menutup bagian mori putih yang relatif luas agar tidak terkena warna pada proses pencelupan. Istilah untuk menyebut proses ini adalah “nemboki”.

Kelima canting diatas lah yang sering dipakai pembatik untuk membatik motif halus. Canting bisa diperoleh dengan mudah di toko malam. Di Solo ada beberapa toko yang menyediakan canting. Kadang dijual masih dalam bentuk mangkok pipa, tanpa garan (pegangan), namun ada yang menjual memakai garan. Garan ini terbuat dari semacam rotan namun ringan dan lunak, panjangnya sekitar 10 cm.

Jika tidak memakai garan, maka pembatik harus merangkai sendiri garannya. Cara memasangkan garan ialah, perhalus garan dengan menggunakan pisau. Bentuk ujungnya supaya pas dengan ukuran mangkok canting. Lalu tusukkan bagian tembaga yang runcing sejajar dengan garan, dan ikat pipa lengkungnya pada ujung garan yang runcing dengan menggunakan benang jahit.

Canting dijual dengan harganya berkisar Rp 1250 – Rp 2500,- per biji. Tergantung kualitasnya. Pembatik akan memilih yang kuat, paruh pipanya tidak bengkok, dan mulut pipa bundar sempurna. Karena dari pipa yang sempurna ini akan keluar motif-motif yang bagus untuk sebuah batik. Kadang, jika perlu, pembatik akan mengamplas mulut pipa atau membelah sedikit bagian cucuknya dengan pisau, agar mendapatkan hasil yang baik dan nyaman dipergunakan.

Inilah canting. Diatas adalah gambar 4 buah. Sesuai urutan dari atas ke bawah: canting carat, canting klowongan, canting isen, dan canting cecek.

sumber : haleygiri.multiply.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: